• Status Order
  • SMS/WA: Shoim 085852663343
  • info@tokogrosirmuslim.com
Terpopuler:

Keberkahan Makan Bersama

10 July 2016 - Kategori Blog

Setiap libur Lebaran atau Hari Raya Idul fitri biasanya selain identik dengan saling mohon maaf memaafkan juga ada budaya untuk belanja baju muslim dengan model busana muslim terbaru juga biasanya ada kebiasaaan dalam keluarga besar di Indonesia dalam setiap merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran di setiap tahun yaitu juga dihidangkan aneka camilan atau makanan ringan misalnya kripik buah, keripik pisang, keripik nangka, keripik salak dengan semakin berkembangnya teknologi pengolahan makanan, khususnya teknologi yang semakin mempermudah cara membuat keripik aneka buah.
Selain menghidangkan aneka makanan ringan, di Indonesia biasanya dalam keluarga besar juga memiliki kebiasaan untuk mengadakan acara makan bersama. Hal ini tentu sangat banyak manfaatnya, misalnya mempererat tali silaturrahmi antar anggota keluarga.  Berikut ini ada tulisan menarik dari teman dan guru saya Bambang Subandi , beliau satu kamar dengan saya saat di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang sama-sama berasal dari mojokerto yang ditulis dalam akun facebooknya, beliau juga seorang  Dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya (dahulu: IAIN Sunan Ampel ) :

KEBERKAHAN MAKAN BERSAMA

Umar bin al-Khatab membuat tradisi makan bersama di keluarganya. Tradisi ini dilanjutkan oleh anak-anaknya, termasuk Abdullah bin Umar. Begitu pula, Abdullah bin Umar mewariskan tradisi makan bersama kepada anak-anaknya, termasuk Salim. Ternyata, tadisi makan bersama ini merupakan ajaran Rasulullah SAW yang diperhatikan oleh Umar bin Khatab. Ibnu Majah meriwayatkan hadis tentang makan bersama tersebut sebagai berikut.
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَهْرَمَانُ آلِ الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا فَإِنَّ الْبَرَكَةَ مَعَ الْجَمَاعَة(Ibnu Ma>jah 3287)
Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah bersama-sama. Jangan berpisah. Sesuangguhnya, keberkahan bersama dengan kebersamaan”.
Selama Bulan Ramadhan, Umat Islam dibiasakan untuk makan bersama. Makan sahur bersama dengan anggota keluarga. Makan berbuka puasa bisa bersama anggota keluarga, bersama para tetangga setelah pengajian, atau bersama kawan-kawan dalam suatu acara. Saat Hari Raya Idul Fitri, makan bersama menjadi agenda utama. Sanak famili dan kerabat terlibat dalam makan bersama.
Ada kebahagiaan, manfaat, dan keberkahan saat makan bersama. Pertama, jalinan silaturrahim semakin erat. Dalam makan bersama, kasih sayang lebih menonjol daripada permusuhan. Dahulu, Rasulullah mengundang makan bersama kepada Kaum Quraisy sebelum mengutarakan dakwahnya yang pertama. Meski ada pertentangan dari Abu Lahab, tidak sedikit pemuda Kaum Quraisy yang mengikuti dakwah Rasulullah. Saat ini, makan bersama menjadi salah satu strategi diplomasi. Presiden Joko Widodo kerap mengajak makan bersama. Mereka yang pernah diajak makan bersama menjadi lebih simpatik dengan Presiden Jokowi. Ternyata, mereka yang diajak makan bersama merasa lebih segan dengan orang yang mengajak makan bersama.
Kedua, makan bersama menjadi media untuk berdiskusi. Ceramah sang Kyai di mimbar lebih datar dibandingkan dengan diskusi bersama sang Kyai saat makan bersama yang lebih memecahkan masalah. Ketika semua saudara berkumpul dan makan bersama dengan orang tua mereka di Hari Raya Idul Fitri, ternyata muncul banyak gagasan yang mampu memecahkan masalah keluarga.
Ketiga, makan bersama menjadi media penampakan karakter dan sifat sesorang. Karakter ini bisa diamati melalui cara makan. Bukankah ada perbedaan karakter antara orang yang makan sedikit dan habis dengan orang yang makan banyak tetapi tidak habis. Begitu pula, mengunyah dengan cepat memiliki karakter yang berbeda dengan mengunyah yang lambat. Orang tua memiliki kesan tersendiri atas perubahan sikap pada diri anaknya. Orang tua ini hanya mengamati anaknya saat makan bersama. Ia pun membandingkan cara makan anaknya dengan masa anak- anak dahulu
Keempat, makan bersama merupakan perolehan rejeki yang sebenarnya. Makanan adalah rejeki bagi tubuh yang disuapinya. Ternyata, harta yang dimiliki belum tentu menjadi rejekinya. Harta tersebut bisa menjadi rejeki anak atau istrinya, bahkan rejeki bagi orang lain. Rumah yang dibangun bisa dihuni oleh orang lain melalui persewaan. Uang hasil sewa akan lepas untuk ditukarkan dengan kebutuhannya. Terkadang, kebutuhannya belum terpenuhi tetapi rejekinya hilang. Tidak jarang pula, seseorang memakan makanan yang diberikan oleh orang lain. Ini berarti ia mendapatkan rejeki tanpa ada kepemilikan harta. Jadi, harta belum tentu menjadi rejeki bagi pemiliknya.
Kelima, makan bersama memberikan kenikamatan lahir dan batin. Kenikmatan lahir teletak pada kelezatan makanan. Ternyata, suasana kebersamaan memberikan cita rasa kelezatan pada makanan. Kenikmatan batin berada dalam komunikasi dan interaksi. Orang yang senang bergaul memiliki harapan hidup dan optimistis lebih besar dibanding orang yang suka menyendiri.
Keenam, makan bersama menyamakan kedudukan hingga terbangun sifat rendah hati. Dalam makan bersama, orang yang kedudukannya tinggi akan merendah dan orang yang kedudukannya rendah akan ditinggikan. Dalam jamuan halal bi halal, menu yang disajikan untuk pimpinan juga disajikan untuk para karyawan. Melalui makan bersama, pimpinan bisa merasakan kebahagiaan para karyawannya. Demikian pula, para karyawan semakin segan dan hormat kepada pimpinan. Penghormatan ini akan berbuah kesetiaan atau loyalitas.
Ketujuh, makan bersama memberikan kesan yang paling dalam. Hampir setiap kejadian istimewa diringi dengan makan bersama. Perayaan ulang tahun tanpa makan bersama akan terasa hambar.,Pada musim liburan Hari Raya, banyak orang yang datang dari jauh hanya untuk makan bersama. Karena itu, saat ini wisata kuliner yang strategis dengan aneka menu makin diminati.
Kedelapan, makan bersama sangat efektif sebagai media konseling. Tidak jarang orang yang berpikiran tertutup akan terbuka setelah diajak makan bersama. Nasehat mudah diterima melalui media makan bersama. Polisi sering menggunakan strategi makan bersama untuk mengungkapkan kasus kejahatan yang memerlukan pengakuan. Konon, kasus terorisme bom Bali I diungkapkan melalui media makan bersama.
Kesembilan, makan bersama bisa menjadi terapi yang mempercepat penyembuhan orang yang sedang sakit. Mereka yang terbaring sakit perlu diyakinkan adanya kebersamaan keluarganya dengan makan bersama-sama. Penyuapan oleh orang yang dicintainya juga menambahkan kecepatan dalam penyembuhan.
Sari Khutbah Idul Fitri di masjid Darussalam Prambon
Bang Bandi

Dikutip/ditulis ulang oleh Muhammad Shoim

 

, , , , , , , , , , , , , , , ,